Scroll untuk baca artikel
EKONOMI

**** Lonjakan Harga Kopi Robusta Lampung: Berkah Merekah di Tingkat Petani, Tantangan Bagi Kedai Lokal **

Avatar
8
×

**** Lonjakan Harga Kopi Robusta Lampung: Berkah Merekah di Tingkat Petani, Tantangan Bagi Kedai Lokal **

Sebarkan artikel ini

TELISIK EKONOMI — – BANDAR LAMPUNG** — Perekonomian masyarakat di Bumi Ruwa Jurai kembali bergeliat seiring melonjaknya harga komoditas kopi Robusta di tingkat petani. Fenomena ini membawa angin segar bagi para pekebun di wilayah penghasil seperti Lampung Barat dan Tanggamus, meski di sisi lain menghadirkan tantangan penyesuaian bagi para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) olahan kopi di kawasan perkotaan.

Berdasarkan penuturan warga setempat, harga biji kopi Robusta kering (*asalan*) di tingkat petani saat ini berhasil menembus angka Rp60.000 hingga Rp68.000 per kilogram. Angka ini melonjak tajam dibandingkan periode yang sama pada tahun-tahun sebelumnya yang biasanya tertahan di kisaran Rp25.000 hingga Rp35.000 per kilogram.

Suhardi (48), seorang petani kopi asal Liwa, Kabupaten Lampung Barat, mengungkapkan rasa syukurnya atas kenaikan harga yang dinilai sebagai rekor tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. Menurutnya, hasil penjualan panen kali ini sangat membantu meningkatkan kesejahteraan keluarga petani.

“Alhamdulillah, harga kopi sekarang benar-benar membawa berkah. Penjualan panen kali ini bisa menutupi biaya pupuk yang sempat mahal, sekaligus untuk modal perawatan kebun dan kebutuhan sekolah anak. Sudah lama kami tidak merasakan harga setinggi ini,” ujar Suhardi saat dihubungi, Selasa (28/5).

Namun, kondisi berbanding terbalik dirasakan di sektor hilir. Di pusat-pusat keramaian Kota Bandar Lampung, para pemilik kedai kopi lokal harus memutar otak akibat melambungnya harga bahan baku biji kopi (*green beans*).

Rian (32), salah satu pemilik kedai kopi independen di kawasan Way Halim, Bandar Lampung, mengaku dilematis menghadapi situasi ini. Kenaikan harga bahan baku memaksa pelaku usaha untuk menyesuaikan harga jual produk jadi kepada konsumen.

“Harga biji kopi mentah naik drastis. Sebagai pelaku UMKM, kami serba salah. Jika harga minuman tidak dinaikkan, margin keuntungan kami tergerus habis untuk menutupi biaya operasional. Tapi kalau naik terlalu tinggi, kami khawatir daya beli konsumen menurun,” ungkap Rian.

Kondisi ini menggambarkan dinamika ekonomi khas Lampung, di mana komoditas perkebunan menjadi pendorong utama perputaran uang di tingkat pedesaan (hulu). Kendati demikian, sinergi antara sektor pertanian dan industri olahan lokal tetap memerlukan perhatian.

Masyarakat dan pelaku usaha berharap, tingginya harga komoditas unggulan Lampung ini dapat diimbangi dengan kestabilan pasokan dan dukungan pemerintah daerah, agar manfaat ekonominya dapat dirasakan secara merata, baik oleh petani di kebun maupun para pelaku UMKM di perkotaan.

***
**Sumber: Warga setempat (Petani Lampung Barat & Pelaku UMKM Bandar Lampung)**

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *