Scroll untuk baca artikel
HARGA & PASARHarga Emas

Telisik Harga Emas Hari Ini: Melesat Tersengat Permintaan ETF dan Pembelian Bank Sentral

Avatar
21
×

Telisik Harga Emas Hari Ini: Melesat Tersengat Permintaan ETF dan Pembelian Bank Sentral

Sebarkan artikel ini

Didorong Permintaan ETF dan Pembelian Bank Sentral, Pasar Pantau Pidato Ketua The Fed

Grafik Pergerakan Kenaikan Harga Emas Dunia Didorong Permintaan ETF dan Bank Sentral — Telisik Media
Harga emas dunia menguat ke level US$4.609,97 per ons pada perdagangan Jumat, 28 Agustus 2026. Kenaikan didorong tingginya permintaan dana indeks emas (ETF) serta pembelian berkelanjutan oleh bank sentral berbagai negara. (Ilustrasi: Telisik Media)

TELISIK EKONOMI – Harga emas bergerak menguat pada perdagangan Jumat, 28 Agustus 2026, setelah sebelumnya mencatat kenaikan didorong tingginya permintaan dari instrumen dana indeks emas (ETF) serta pembelian berkelanjutan oleh bank sentral dunia sebagai aset cadangan alternatif.

Berdasarkan data pasar internasional, harga emas di pasar spot naik 0,4% menjadi US$ 4.609,97 per ons pada akhir sesi Kamis, setelah sempat turun 1,4% pada Rabu. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Desember tercatat naik 0,2% ke posisi US$ 4.664,40 per ons.

Kenaikan harga emas ini didorong oleh dua faktor utama: lonjakan permintaan melalui instrumen dana indeks emas (ETF) dan pembelian berkelanjutan oleh bank sentral berbagai negara yang menjadikan emas sebagai aset cadangan alternatif selain mata uang Dolar Amerika Serikat.

“Saya memandang optimis terhadap kenaikan harga emas semata-mata karena permintaan saat ini; kita melihat banyak aliran dana datang dari sisi ETF, serta pembelian berkelanjutan oleh bank sentral yang menjadikannya aset alternatif selain Dolar,” ungkap Bob Haberkorn, Senior Market Strategist di StoneX.

Pergerakan emas dipantau terus oleh para investor sambil menantikan pidato Ketua Bank Sentral AS (The Fed) Kevin Warsh dalam Simposium Ekonomi Jackson Hole pada Jumat waktu Amerika Serikat. Pernyataan tersebut diproyeksikan menjadi petunjuk penting arah kebijakan suku bunga AS ke depan.

Data inflasi Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) AS yang dirilis Rabu tercatat naik 3,7% dalam 12 bulan hingga Juli, sedikit lebih tinggi dari perkiraan pasar. Peluang kenaikan suku bunga The Fed pada September turun menjadi 34%, namun peluang kenaikan pada Desember masih terbuka sebesar 74%.

Suku bunga yang lebih tinggi biasanya menekan daya tarik emas karena logam mulia ini tidak menghasilkan imbal hasil berkala. Oleh karena itu, pidato pejabat The Fed menjadi penentu arah pergerakan emas dalam jangka waktu dekat.

Di pasar dalam negeri, pergerakan harga emas dunia turut memengaruhi tren harga emas di pasaran Indonesia. Masyarakat disarankan tetap mencermati perkembangan harga emas secara berkala sebelum memutuskan pembelian atau investasi.

📌 Sumber: Liputan6.com — 28 Agustus 2026

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *